Minggu, 03 Januari 2016

takdir tuhan memang tak bisa ditolak

Sebuah pelajaran yang berharga, takdir tuhan memang tak bisa di tolak. Tak mengenal status sosial di dunia, tak mengenal orang pintar, bodoh, miskin, kaya, rajin, preman, ustadz, bahkan ulama sekalipun. Tuhan sudah takdirkan ini, memberi cambukan bahwasanya usia tidak bisa menentukan kedatangan malaikat Izrail. Ajal akan tiba seketika ketika Allah menghendaki nya. Ini bukan ranah nya manusia, tak ada negosiasi dan kompromi. Bagi Nya ini hal yang mudah tapi berat dirasakan oleh manusia. Ketidak siapan mempertanggung jawabkan apa yang ia lakukan selama hidup menjadi beban enggan untuk diistirahatkan.
Dunia memang terlihat begitu indah dimata manusia, harta dan jabatan menjadi alat untuk menguasainya. Materialisme yang dibangun melupakan hakikat manusia sebagai mahluk ciptaan yang diciptakan oleh sang pencipta. Semua ini hanya panggung sandiwara, manusia hanya bisa menjadi tokoh pemeran, watak yang beragam, sifat dan prilaku yang saling bertentangan. Konflik akan terus terjadi sebelum panggung ini ditutup kelak ketika skenario sudah ttamat. ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Surah Al-Ankabut ayat 64).
Serangan modernisasi yang diluncurkan oleh Amerika sebagai sebagai stimulus agar manusia semakin mengarah kepada kehidupan yang hedonis, mengarahkan manusia kepada meteri sebagai tujuan, terlalu sibuk dengan urusan duniawi seolah Tuhan tidak berperan. Sosialis komunis, liberalis kapitalis membutakan manusia seolah itu adalah pedoman kehidupan. Kedua nya dibenturkan sehingga panggung ini akan terus konflik sepanjang masa. Disitulah manusia akan merugi.
Dalam ilmu matematika, kurva terbagi atas dua sumbu, antara x yang horizontal dan y yang vertikal. Tataran manusia dan dunia berada pada sumbu x, hubungan antar sesama manusia atau hablum minannas. Sedangkan sumbu y merupakan tataran Tuhan yang maha esa, hablum minallah. Kita diperintahkan untuk untuk melakukan kedua nya, hablum minallah dan hablum minannas. Secara matematis berarti kita diperintahkan untuk bisa berada pada garis keseimbangan antara x dan y yang akan membentuk sudut 45 derajat. Antara materialis dan idealis.
Sebagai mahluk pelupa sudi kira nya kita saling mengingatkan jalan kebaikan, saling berbagi dan ikhlas atas kodrat nya. Ini mengingatkan penulis bahwa sanya semua akan terjadi kepada siapapun yang dikehendaki Nya. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar