Dua hari yang lalu, dunia terkejut dengan kejadian
yang terjadi di paris prancis. Seketika jumat malam paris begitu
mencekam, semua nya hening sesekali terdengar suara jerit ketakuran.
Bagaimana tidak, petugas keamanan paris kecolongan sehingga akhir nya
kelompok teroris berhasil meledakan bom bunuh diri di pusat kota, kurang
lebih 60 orang meninggal dan puluhan lainya luka luka.
Kasus teror tersebut merupakan puncak dari berbagai serangan yang pernah terjadi sebelum nya. Presiden prancis menyayangkan dan mengecam kejadian tersebut, dia akan terus memburu pelaku nya yang diduga dilakukan oleh kelompok teroris radikal timur tengah, yakni ISIS yang baru beberapa jam menyatakan bahwa kami (ISIS) bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Bukan hanya presiden prancis, semua pemimpin dunia ikut angkat bicara mengutuk kejadian tersebut. Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat mengecam dan mengutuk kejadian tersebut. Ia menilai kejadian tersebut sudah tidak memiliki nilai nilai kemanusiaan, mereka meneror warga sipil yang tak berdosa dan ini bukan hanya ditunjukan kepada warga paris tapi untuk seluruh dunia.
Semua media tertuju ke paris, hampir setiap waktu berita yang ditayangkan adalah kejadian teror di paris. Tidak terkecuali di Indonesia, hampir semua media mengangkat kejadian tersebut, pagi, siang, malam yang terlihat diberitakan adalah kekejaman teror yang menimpa warga barat yang tak berdosa.
Namun kejadian tersebut adalah kejadian kecil yang sering terjadi di tanah palestina. Keseharian mereka ditemani dentuman bom, aktivitas mereka ditemani suara tembakan senjata api yang tak pernah senyap, mereka mendengar itu setiap waktu. Aktivitas mengkafani jenazah sudah tak aneh lagi seolah menjadi sebuah kewajiban rutinitas dalam kehidupan mereka, tangisan kehilangan seolah menjadi sebuah arisan, tinggal menunggu waktu, giliran keluarga siapa yang kali ini gugur ditembus peluru kematian.
Palestina terus diteror, sudah ribuan nyawa menghilang begitu saja akibat teror yang terus dilancarkan oleh militer Israel. Bukan hanya nyawa, tanah air mereka pun kian hari kian menyempit. Mereka menjerit melebihi rakyat paris yang menjerit, mereka lebih tertindas melebihi apa yang rakyat paris rasakan. Namun apakah dunia melihat kejadian di palestina sebuah kejahatan teror internasional? rasa nya tidak. Amerika Serikat melalui departemen luar negeri nya enggan mengakatan bahwa serangkaian yang terjadi di palestina bukan merupakan sebuah tindakan teror.
Para pemimpin dunia bungkam, seolah semua baik baik saja. Media tak pernah geram melihat kejadian tersebut seolah alergi yang tiap kali kambuh. Dimana fungsi PBB sebagai organisasi perdamaian dunia yang mengedepankan keadilan? Tak pernah ada respon sedikitpun dari dunia.
Yang paling menyedihkan, ketika terjadi kasus teroris semua mata tertuju pada Islam. Semua tindak terorisme selalu dikaitkan dengan muslim. Terlebih ketika ISIS dengan resmi nya mengakui dan bertanggung jawab atas kejadian teror di paris tersebut. Islam kembali disudutkan.
Islam tidak mengenal konsep teror, tidak mengajarkan tindak kekerasan apalagi melakukan bom bunuh diri dengan alasan jihad. Jangan samakan Islam dengan ISIS, ISIS bukan islam, tindakan mereka jauh dari ajaran Islam.
Dalam hal ini, media sebagai pusat informssi harus benar benar netral, selektif terhadap informssi yang akan disampaikan, jangan sampai menyudutkan apalagi membuat propaganda dan konspirasi. Saya sendiri mengecam dan menyayangkan tindak terorisme yang terjadi di paris, namun jangan sampai kejadian tersebut menjadi alasan mereka untuk menyerang negara timur tengah seperti yang pernah dilakukan amerika terhadap afghanistan.
Semua ini hanya Allah yang tahu, ini hanya sebatas opini penulis. Kalau ada kata kata yang tidak berkenan dihati pembaca mohon dimaafkan. Terimakasih
Kasus teror tersebut merupakan puncak dari berbagai serangan yang pernah terjadi sebelum nya. Presiden prancis menyayangkan dan mengecam kejadian tersebut, dia akan terus memburu pelaku nya yang diduga dilakukan oleh kelompok teroris radikal timur tengah, yakni ISIS yang baru beberapa jam menyatakan bahwa kami (ISIS) bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Bukan hanya presiden prancis, semua pemimpin dunia ikut angkat bicara mengutuk kejadian tersebut. Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat mengecam dan mengutuk kejadian tersebut. Ia menilai kejadian tersebut sudah tidak memiliki nilai nilai kemanusiaan, mereka meneror warga sipil yang tak berdosa dan ini bukan hanya ditunjukan kepada warga paris tapi untuk seluruh dunia.
Semua media tertuju ke paris, hampir setiap waktu berita yang ditayangkan adalah kejadian teror di paris. Tidak terkecuali di Indonesia, hampir semua media mengangkat kejadian tersebut, pagi, siang, malam yang terlihat diberitakan adalah kekejaman teror yang menimpa warga barat yang tak berdosa.
Namun kejadian tersebut adalah kejadian kecil yang sering terjadi di tanah palestina. Keseharian mereka ditemani dentuman bom, aktivitas mereka ditemani suara tembakan senjata api yang tak pernah senyap, mereka mendengar itu setiap waktu. Aktivitas mengkafani jenazah sudah tak aneh lagi seolah menjadi sebuah kewajiban rutinitas dalam kehidupan mereka, tangisan kehilangan seolah menjadi sebuah arisan, tinggal menunggu waktu, giliran keluarga siapa yang kali ini gugur ditembus peluru kematian.
Palestina terus diteror, sudah ribuan nyawa menghilang begitu saja akibat teror yang terus dilancarkan oleh militer Israel. Bukan hanya nyawa, tanah air mereka pun kian hari kian menyempit. Mereka menjerit melebihi rakyat paris yang menjerit, mereka lebih tertindas melebihi apa yang rakyat paris rasakan. Namun apakah dunia melihat kejadian di palestina sebuah kejahatan teror internasional? rasa nya tidak. Amerika Serikat melalui departemen luar negeri nya enggan mengakatan bahwa serangkaian yang terjadi di palestina bukan merupakan sebuah tindakan teror.
Para pemimpin dunia bungkam, seolah semua baik baik saja. Media tak pernah geram melihat kejadian tersebut seolah alergi yang tiap kali kambuh. Dimana fungsi PBB sebagai organisasi perdamaian dunia yang mengedepankan keadilan? Tak pernah ada respon sedikitpun dari dunia.
Yang paling menyedihkan, ketika terjadi kasus teroris semua mata tertuju pada Islam. Semua tindak terorisme selalu dikaitkan dengan muslim. Terlebih ketika ISIS dengan resmi nya mengakui dan bertanggung jawab atas kejadian teror di paris tersebut. Islam kembali disudutkan.
Islam tidak mengenal konsep teror, tidak mengajarkan tindak kekerasan apalagi melakukan bom bunuh diri dengan alasan jihad. Jangan samakan Islam dengan ISIS, ISIS bukan islam, tindakan mereka jauh dari ajaran Islam.
Dalam hal ini, media sebagai pusat informssi harus benar benar netral, selektif terhadap informssi yang akan disampaikan, jangan sampai menyudutkan apalagi membuat propaganda dan konspirasi. Saya sendiri mengecam dan menyayangkan tindak terorisme yang terjadi di paris, namun jangan sampai kejadian tersebut menjadi alasan mereka untuk menyerang negara timur tengah seperti yang pernah dilakukan amerika terhadap afghanistan.
Semua ini hanya Allah yang tahu, ini hanya sebatas opini penulis. Kalau ada kata kata yang tidak berkenan dihati pembaca mohon dimaafkan. Terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar