Pengaruh game online terhadap anak-anak
Seiring dengan majunya teknologi, dapat kita jumpai
dengan mudah berbagai macam jasa penyedia layanan game online. Di kota-kota
besar seperti Jakarta misalnya, hampir setiap kelurahan bahkan RW, RT sampai
tiap gang kita dapati dengan mudah jasa warung internet yang menyediakan game
online. Hal tersebut disebabkan karena naiknya jumlah konsumen atau member
pengguna jasa tersebut. Tak dinafikan bahwa sebagian besar klien nya adalah
anak dibawah umur yang masih mengenyam bangku sekolah kisaran 7-16 tahun. Bahkan
dibeberapa tempat ada yang usianya dibawah 7 tahun. Lalu apa yang mereka
lakukan disitu? Jelas apalagi kalau bukan menikmati suguhan produk dari
internet berupa game online. Hebatnya lagi pemilik warung internet mematok
harga yang murah, tarif dikenakan paket sesuai jam yang telah ditentukan.
Semakin lama waktu bermain tarif akan semakin murah, begitu seterusnya. Contoh-contoh
game yang biasa dimainkan secara online melalui PC misalnya: GTA, counter
strike, point blank, ayo dance, modo marble, dan lain sebagainya. Permainan
yang disediakan juga permainan yang bersifat kontinuitas, contohnya seperti
game yang mengumpulkan poin, persaingan, dan lain sebagainya. Tentu hal itu
dapat menarik anak untuk bermain setiap hari secara berkala demi mendapatkan
poin, atau bersaing dengan teman sebayanya. Yang lebih parah lagi tidak sedikit
juga dari game yang disediakan berbau unsur pornografi. Sehingga dengan mudah
dan murahnya akses internet yang dijangkau membuat anak rela melakukan segala
cara demi bermain game online.
Dampak
Game Online terhadap Perkembangan Anak Didik di Sekolah
Anak
yang kecanduan bermain game online tentu akan berdampak terhadap aktivitasnya
di sekolah. Anak cenderung kurang berkonsentrasi terhadap kegiatan belajar
disekolah sebab oatknya sudah kelelahan terpakai saat main game online. Akibatnya
anak ketinggalan pelajaran disekolah dan berdampak pada hasil ujiannya. Selain
itu akibat waktu yang tersita dengan bermain game menyebabkan anak kekurangan
waktu belajar dirumah sehingga PR dan tugas-tugasnya terbengkalai.Baru-baru ini
dari American Academy of Neurology
menyebutkan bahwa bermain game secara berlebihan tidak hanya berdampak buruk
terhadap perilaku anak, tetapi juga otak anak itu sendiri. Bermain game dalam
porsi yang berlebihan justru dapat merusak perkembangan otak. Dopamin dalam otak merupakan neurotransmitter yang membantu
mengontrol pusat kepuasan dan kesenangan di otak.Dopamin juga mengatur tindakan
dan tanggapan emosional. Lalu peran game disini adalah dapat mengaktifkan pusat
kesenangan di otak dan merangsang emosi positif itu sendiri. Masalahnya adalah,
game didesain untuk menargetkan pusat kesenangan ini, dan saat bermain game
otak kemudian merespon dengan memproduksi Dopamin lebih sedikit dari kebutuhan,
akhirnya games bisa berakhir pada kekurangan pasukan dopamine yang menyebabkan
kurang fokusnya seseorang secara emosional. Tentu hal ini sangat mengganggu
bagi anak didik yang masih mengenyam bangku sekolah untuk mengikuti kegiatan
belajar. Dampak dari game online juga bisa membuat anak pasif, anak jadi
canggung ketika harus berhadapan dengan teman sebayanya sebab dirinya terbiasa
berhadapan dengan benda mati berupa komputer. Akhirnya proses komunikasi anak
pun akan terganggu, anak jadi sedikit memiliki teman dan jauh dari proses
sosialisasi yang baik.
F faktor
yang Menjadi Penyebab Kecanduan Anak terhadap Game Online
Tentunya
banyak sekali faktor yang menyebabkan anak mengalami kecanduan terhadap dunia
maya khususnya game online. Baik dari sisi psikologis (dari dalam) maupun
lingkungan (dari luar). Faktor
psikologis anak atau hasrat dari anak sendiri misalya, dengan adanya game
online seolah membangkitkan kepuasan anak untuk mempelajari hal yang baru,
seolah game bukanlah sesuatu yang merusak atau negatif, melainkan suatu hiburan
yang sah saja mereka lakukan. Walau tanpa disadari hal tersebut mempengaruhi
pola fikir mereka.Selain itu, game yang ada sengaja dibuat menarik untuk terus
dimainkan sehingga menyebabkan anak berlomba-lomba untuk selalu bermain demi
mengumpulkan point atau sekadar bersaing dengan teman lainnya. Jika dilihat
dari sisi luar atau lingkungan misalnya lokasi warung internet yang dekat
dengan rumah, sehingga anak dapat dengan mudah menjangkau bahkan ada yang di
fasilitasi dirumahnya. Maka sudah tidak diragukan lagi kalau game online bagi
anak sudah menjadi kebutuhan kedua setelah kebutuhan pokok.
Upaya
Pencegahan Anak terhadap Pengaruh Game Online
Upaya
pencegahan dalam hal ini merujuk kepada peran orang tua dan guru selaku orang
dewasa yang berhubungan langsung dengan anak.
-
Peran
Orang Tua Dirumah:
Orang tua yang
sibuk diluar rumah akan mempengaruhi psikis anak. Anak cenderung merasa
kesepian dan merasa butuh sesuatu untuk dijadikan pengalihan dari rasa
kesepiannya itu. Si anak justru merasa ingin menyamai orang tua yang sama
sibuknya, namun pola fikir anak ini masih rentan sehingga apabila tidak diawasi
maka pengalihan-pengalihan yang mereka lakukan akan membawa kepada hal yang
negatif. Selain itu orang tua yang sekalipun ada dirumah namun tidak mau memperhatikan
anaknya sama halnya. Jarang memberi nasehat, kasih sayang, ataupun bentuk
perhatian lain yang membuat anak merasa nyaman. Sehingga demikian tidak salah
jika anak merasa ingin mendapat kebahagiaan diluar dengan caranya sendiri.
Anak-anak cenderung mengikuti apa yang orang tua lakukan, demikian jika orang
tua berperilaku suka bermain internet atau sejenisnya di depan anak secara
terang-terangan. Tentu akan menimbulkan kecenderungan anak mengikuti perilaku
tersebut. Anak merasa sah saja jika bermain game online sepuasnya sebab selama
ini anak disuguhkan dengan orang tua yang juga senang bermain game online. Dari
hal diatas tentu menjadi PR yang sangat sulit bagi para orang tua untuk
senantiasa berupaya menjadi orang tua yang mampu mendidik anak. Berikut paparan
solusi dari peran orang tua terhadap anak dirumah:
1. Orang
tua diharapkan tidak semua bekerja diluar rumah. Usahakan ada salah satu orang
tua yang mengawasi dan mengasuh anak secara langsung, disarankan adalah ibu.
Sebab naluri ibu yang kuat dalam merawat dan mendidik si buah hati sehingga diharapkan
dari didikan dan kasih sayang ibu inilah anak dapat patuh dan dibentuk
karakternya menjadi baik. Atau minimal ada seseorang yang mengawasi tingkah
laku si anak jika memang sudah terlewat batas. Atau jika kedua orang tua
terpaksa harus bekerja, terutama bagi ibu carilah pekerjaan yang tidak terlalu
memakan waktu secara penuh seperti berjualan, atau bekerja paruh waktu, agar
disaat jam-jam tertentu yang strategis ibu masih dapat mengontrol anak dengan
baik.
2. Hal
ini yang menjadi sorotan bahwa tidak jarang orang tua yang hanya memiliki kasih
sayang secara naluri saja, dalam arti orang tua hanya mencukupi kebutuhan
materi anak saja, tanpa memberikan pendidikan moral maupun spiritual yang mampu
meningkatkan kecerdasan anak. orang tua ada namun seolah tidak ada, sebab anak
dibebaskan begitu saja mengikuti arus tanpa ada pendidikan khusus. Hal tersebut
banyak kita temui pada masyarakat di kalangan menengah kebawah yang dimana
hampir semua orang tua mereka tidak mengenyam bangku pendidikan. Akhirnya anak
lah yang menjadi korban salah asuhan dari orang tua yang seperti ini. Menjadi
orang tua bukanlah mudah maka dari itu harus benar-benar memiliki ilmu agar
anak dan generasi kita tidak terenggut masa depannya oleh dampak negatif
lingkungan.
3. Orang
tua adalah orang yang berhadapan langsung dengan anak. setiap hari, setiap
saat, dimanapun dan kapanpun. Maka setiap perilaku orang tua menjadi cermin
bagi anak dalam bersikap. Berikan teladan yang baik didepan anak. Bentuk
kepribadian anak melalui sikap yang orang tua lakukan setiap hari. Jika orang
tua sudah memberikan contoh yang baik maka anak hanya tinggal meniru hal itu
dan mempraktekannya di lingkungan yang akan anak hadapi kedepan.
4. Terakhir
orang tua juga harus dapat mengalihkan kecanduan anak kepada game online dengan
aktivitas lain yang tak kalah menarik. Seperti kegiatan memancing, berkebun,
atau memelihara hewan peliharaan. Hal ini akan membuat si anak sibuk namun
bermanfaat. Hal ini harus dilakukan juga sesuai hobi si anak, agar ia cenderung
melepaskan kecanduan game online itu dengan ringan dan hati yang senang.
Sehingga bisa dikatakan bahwa si anak dapat meninggalkan kesenangan untuk
kesenangan lain yang lebih bermanfaat.
-
Peran
Guru di Sekolah:
Guru adalah
orang tua disekolah. Guru adalah oang yang bertanggung jawab terhadap perilaku
anak didik disekolah. Walau dalam hal ini guru yang memang paling banyak
dirugikan yaitu menanggung anak murid yang kecanduan internet akibat pola asuh
yang salah dari rumah. Maka sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap anak
didik disekolah, guru sedikit banyaknya harus memberikan andil yang besar dalam
membantu menangani permasalahan anak didiknya. Berikut beberapa peran guru yang
harus dilakukan:
1. Guru
harus mengetahui keadaan dan kondisi muridnya saat kegiatan belajar berlangsung.
Guru harus dapat membaca perilaku peserta didiknya, apakah ada murid yang
memperhatikan atau tidak, ada yang mendapat nilai jelek ketika ulangan, dan ada
anak yang pasif atau mengasingkan diri dari lingkungannya.
2. Seorang
guru harus aktif menanyakan anak didiknya yang terlihat turun dalam motivasi
belajar. Hal ini dapat terindikasi dari merosotnya nilai murid misalnya, atau
murid yang ketika ditanya tidak mampu menjawab, atau murid yang kurang
berpartisipasi dalam proses kegiatan belajar.
3. Guru
harus memberikan solusi terhadap anak didik dari permasalahan yang dialami.
Guru harus mampu membimbing anak didik, memberikan perlakuan khusus kepada si
anak pecandu game online ini seperti les tambahan agar setidaknya ia tidak
ketinggalan pelajaran di sekolah. Arahkan anak didik agar aktif baik didalam
kelas maupun diluar kelas untuk mampu mengikuti berbagai kegiatan. Kegiatan
ekstrakurikuler misalnya seperti Pramuka, Olahraga, Kesenian dll. Hal ini
dilakukan untuk melatih kecakapan anak, sebagai solusi dari kepasifan anak
akibat kecanduan internet.
4. Guru
harus mengkomunikasikan terhadap orang tua akan perihal yang dialami anak
didiknya. Bahwa hal ini masalah yang serius, perlu adanya kerjasama antar pihak
orang tua maupun guru agar si anak ini hilang kecanduannya.
5. Hal
terakhir yang harus dilakukan jika si anak mash belum lepas kecanduan
internetnya maka perlu meminta bantuan psikolog anak yang dapat men-terapi anak
agar sembuh dari kecanduannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar