Rabu, 14 Oktober 2015

Pengaruh game online terhadap anak-anak



Pengaruh game online terhadap anak-anak

Seiring dengan majunya teknologi, dapat kita jumpai dengan mudah berbagai macam jasa penyedia layanan game online. Di kota-kota besar seperti Jakarta misalnya, hampir setiap kelurahan bahkan RW, RT sampai tiap gang kita dapati dengan mudah jasa warung internet yang menyediakan game online. Hal tersebut disebabkan karena naiknya jumlah konsumen atau member pengguna jasa tersebut. Tak dinafikan bahwa sebagian besar klien nya adalah anak dibawah umur yang masih mengenyam bangku sekolah kisaran 7-16 tahun. Bahkan dibeberapa tempat ada yang usianya dibawah 7 tahun. Lalu apa yang mereka lakukan disitu? Jelas apalagi kalau bukan menikmati suguhan produk dari internet berupa game online. Hebatnya lagi pemilik warung internet mematok harga yang murah, tarif dikenakan paket sesuai jam yang telah ditentukan. Semakin lama waktu bermain tarif akan semakin murah, begitu seterusnya. Contoh-contoh game yang biasa dimainkan secara online melalui PC misalnya: GTA, counter strike, point blank, ayo dance, modo marble, dan lain sebagainya. Permainan yang disediakan juga permainan yang bersifat kontinuitas, contohnya seperti game yang mengumpulkan poin, persaingan, dan lain sebagainya. Tentu hal itu dapat menarik anak untuk bermain setiap hari secara berkala demi mendapatkan poin, atau bersaing dengan teman sebayanya. Yang lebih parah lagi tidak sedikit juga dari game yang disediakan berbau unsur pornografi. Sehingga dengan mudah dan murahnya akses internet yang dijangkau membuat anak rela melakukan segala cara demi bermain game online.
            Dampak Game Online terhadap Perkembangan Anak Didik di Sekolah
Anak yang kecanduan bermain game online tentu akan berdampak terhadap aktivitasnya di sekolah. Anak cenderung kurang berkonsentrasi terhadap kegiatan belajar disekolah sebab oatknya sudah kelelahan terpakai saat main game online. Akibatnya anak ketinggalan pelajaran disekolah dan berdampak pada hasil ujiannya. Selain itu akibat waktu yang tersita dengan bermain game menyebabkan anak kekurangan waktu belajar dirumah sehingga PR dan tugas-tugasnya terbengkalai.Baru-baru ini dari American Academy of Neurology menyebutkan bahwa bermain game secara berlebihan tidak hanya berdampak buruk terhadap perilaku anak, tetapi juga otak anak itu sendiri. Bermain game dalam porsi yang berlebihan justru dapat merusak perkembangan otak. Dopamin dalam otak merupakan neurotransmitter yang membantu mengontrol pusat kepuasan dan kesenangan di otak.Dopamin juga mengatur tindakan dan tanggapan emosional. Lalu peran game disini adalah dapat mengaktifkan pusat kesenangan di otak dan merangsang emosi positif itu sendiri. Masalahnya adalah, game didesain untuk menargetkan pusat kesenangan ini, dan saat bermain game otak kemudian merespon dengan memproduksi Dopamin lebih sedikit dari kebutuhan, akhirnya games bisa berakhir pada kekurangan pasukan dopamine yang menyebabkan kurang fokusnya seseorang secara emosional. Tentu hal ini sangat mengganggu bagi anak didik yang masih mengenyam bangku sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar. Dampak dari game online juga bisa membuat anak pasif, anak jadi canggung ketika harus berhadapan dengan teman sebayanya sebab dirinya terbiasa berhadapan dengan benda mati berupa komputer. Akhirnya proses komunikasi anak pun akan terganggu, anak jadi sedikit memiliki teman dan jauh dari proses sosialisasi yang baik.

   
F             faktor yang Menjadi Penyebab Kecanduan Anak terhadap Game Online
Tentunya banyak sekali faktor yang menyebabkan anak mengalami kecanduan terhadap dunia maya khususnya game online. Baik dari sisi psikologis (dari dalam) maupun lingkungan (dari luar).  Faktor psikologis anak atau hasrat dari anak sendiri misalya, dengan adanya game online seolah membangkitkan kepuasan anak untuk mempelajari hal yang baru, seolah game bukanlah sesuatu yang merusak atau negatif, melainkan suatu hiburan yang sah saja mereka lakukan. Walau tanpa disadari hal tersebut mempengaruhi pola fikir mereka.Selain itu, game yang ada sengaja dibuat menarik untuk terus dimainkan sehingga menyebabkan anak berlomba-lomba untuk selalu bermain demi mengumpulkan point atau sekadar bersaing dengan teman lainnya. Jika dilihat dari sisi luar atau lingkungan misalnya lokasi warung internet yang dekat dengan rumah, sehingga anak dapat dengan mudah menjangkau bahkan ada yang di fasilitasi dirumahnya. Maka sudah tidak diragukan lagi kalau game online bagi anak sudah menjadi kebutuhan kedua setelah kebutuhan pokok.



        Upaya Pencegahan Anak terhadap Pengaruh Game Online
Upaya pencegahan dalam hal ini merujuk kepada peran orang tua dan guru selaku orang dewasa yang berhubungan langsung dengan anak.

-          Peran Orang Tua Dirumah:
Orang tua yang sibuk diluar rumah akan mempengaruhi psikis anak. Anak cenderung merasa kesepian dan merasa butuh sesuatu untuk dijadikan pengalihan dari rasa kesepiannya itu. Si anak justru merasa ingin menyamai orang tua yang sama sibuknya, namun pola fikir anak ini masih rentan sehingga apabila tidak diawasi maka pengalihan-pengalihan yang mereka lakukan akan membawa kepada hal yang negatif. Selain itu orang tua yang sekalipun ada dirumah namun tidak mau memperhatikan anaknya sama halnya. Jarang memberi nasehat, kasih sayang, ataupun bentuk perhatian lain yang membuat anak merasa nyaman. Sehingga demikian tidak salah jika anak merasa ingin mendapat kebahagiaan diluar dengan caranya sendiri. Anak-anak cenderung mengikuti apa yang orang tua lakukan, demikian jika orang tua berperilaku suka bermain internet atau sejenisnya di depan anak secara terang-terangan. Tentu akan menimbulkan kecenderungan anak mengikuti perilaku tersebut. Anak merasa sah saja jika bermain game online sepuasnya sebab selama ini anak disuguhkan dengan orang tua yang juga senang bermain game online. Dari hal diatas tentu menjadi PR yang sangat sulit bagi para orang tua untuk senantiasa berupaya menjadi orang tua yang mampu mendidik anak. Berikut paparan solusi dari peran orang tua terhadap anak dirumah:
1.      Orang tua diharapkan tidak semua bekerja diluar rumah. Usahakan ada salah satu orang tua yang mengawasi dan mengasuh anak secara langsung, disarankan adalah ibu. Sebab naluri ibu yang kuat dalam merawat dan mendidik si buah hati sehingga diharapkan dari didikan dan kasih sayang ibu inilah anak dapat patuh dan dibentuk karakternya menjadi baik. Atau minimal ada seseorang yang mengawasi tingkah laku si anak jika memang sudah terlewat batas. Atau jika kedua orang tua terpaksa harus bekerja, terutama bagi ibu carilah pekerjaan yang tidak terlalu memakan waktu secara penuh seperti berjualan, atau bekerja paruh waktu, agar disaat jam-jam tertentu yang strategis ibu masih dapat mengontrol anak dengan baik.
2.      Hal ini yang menjadi sorotan bahwa tidak jarang orang tua yang hanya memiliki kasih sayang secara naluri saja, dalam arti orang tua hanya mencukupi kebutuhan materi anak saja, tanpa memberikan pendidikan moral maupun spiritual yang mampu meningkatkan kecerdasan anak. orang tua ada namun seolah tidak ada, sebab anak dibebaskan begitu saja mengikuti arus tanpa ada pendidikan khusus. Hal tersebut banyak kita temui pada masyarakat di kalangan menengah kebawah yang dimana hampir semua orang tua mereka tidak mengenyam bangku pendidikan. Akhirnya anak lah yang menjadi korban salah asuhan dari orang tua yang seperti ini. Menjadi orang tua bukanlah mudah maka dari itu harus benar-benar memiliki ilmu agar anak dan generasi kita tidak terenggut masa depannya oleh dampak negatif lingkungan.
3.      Orang tua adalah orang yang berhadapan langsung dengan anak. setiap hari, setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Maka setiap perilaku orang tua menjadi cermin bagi anak dalam bersikap. Berikan teladan yang baik didepan anak. Bentuk kepribadian anak melalui sikap yang orang tua lakukan setiap hari. Jika orang tua sudah memberikan contoh yang baik maka anak hanya tinggal meniru hal itu dan mempraktekannya di lingkungan yang akan anak hadapi kedepan.
4.      Terakhir orang tua juga harus dapat mengalihkan kecanduan anak kepada game online dengan aktivitas lain yang tak kalah menarik. Seperti kegiatan memancing, berkebun, atau memelihara hewan peliharaan. Hal ini akan membuat si anak sibuk namun bermanfaat. Hal ini harus dilakukan juga sesuai hobi si anak, agar ia cenderung melepaskan kecanduan game online itu dengan ringan dan hati yang senang. Sehingga bisa dikatakan bahwa si anak dapat meninggalkan kesenangan untuk kesenangan lain yang lebih bermanfaat.

-          Peran Guru di Sekolah:
Guru adalah orang tua disekolah. Guru adalah oang yang bertanggung jawab terhadap perilaku anak didik disekolah. Walau dalam hal ini guru yang memang paling banyak dirugikan yaitu menanggung anak murid yang kecanduan internet akibat pola asuh yang salah dari rumah. Maka sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap anak didik disekolah, guru sedikit banyaknya harus memberikan andil yang besar dalam membantu menangani permasalahan anak didiknya. Berikut beberapa peran guru yang harus dilakukan:
1.      Guru harus mengetahui keadaan dan kondisi muridnya saat kegiatan belajar berlangsung. Guru harus dapat membaca perilaku peserta didiknya, apakah ada murid yang memperhatikan atau tidak, ada yang mendapat nilai jelek ketika ulangan, dan ada anak yang pasif atau mengasingkan diri dari lingkungannya.
2.      Seorang guru harus aktif menanyakan anak didiknya yang terlihat turun dalam motivasi belajar. Hal ini dapat terindikasi dari merosotnya nilai murid misalnya, atau murid yang ketika ditanya tidak mampu menjawab, atau murid yang kurang berpartisipasi dalam proses kegiatan belajar.
3.      Guru harus memberikan solusi terhadap anak didik dari permasalahan yang dialami. Guru harus mampu membimbing anak didik, memberikan perlakuan khusus kepada si anak pecandu game online ini seperti les tambahan agar setidaknya ia tidak ketinggalan pelajaran di sekolah. Arahkan anak didik agar aktif baik didalam kelas maupun diluar kelas untuk mampu mengikuti berbagai kegiatan. Kegiatan ekstrakurikuler misalnya seperti Pramuka, Olahraga, Kesenian dll. Hal ini dilakukan untuk melatih kecakapan anak, sebagai solusi dari kepasifan anak akibat kecanduan internet.
4.      Guru harus mengkomunikasikan terhadap orang tua akan perihal yang dialami anak didiknya. Bahwa hal ini masalah yang serius, perlu adanya kerjasama antar pihak orang tua maupun guru agar si anak ini hilang kecanduannya.
5.      Hal terakhir yang harus dilakukan jika si anak mash belum lepas kecanduan internetnya maka perlu meminta bantuan psikolog anak yang dapat men-terapi anak agar sembuh dari kecanduannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar